oleh

Kasus Jembrana Mukomuko Masih Cukup Tinggi

MUKOMUKO PADEK – Menanggapi berita ramainya masyarakat yang menjual ternaknya setengah harga,Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Fitriyani Ilyas,S.Pt membenarkan bahwa kematian akibat penyakit Jembrana di Kabupaten Mukomuko masih cukup tinggi data investigasi dari Petugas lapangan yakni Dokter Hewan,saat di konfirmasi awak media Selasa (21/9)

“Dari awal Agustus sampai September sudah terjadi 73 kasus kematian ternak akibat Jembrana yakni di Desa Pondok Lunang (Air Dikit) 42 ekor,SP 1 Air Manjunto 4 ekor,SP 7 19 ekor,Selagan Jaya 5 ekor dan Pondok Tengah 3 ekor, kenyataan dilapangan diprediksi lebih tinggi.”terangnya

Hal ini disebabkan keterangan dari penduduk desa banyak ternak yang mati di kebun-kebun yang jauh dari pemukiman penduduk tidak terdata karna tidak dilaporkan,disebabkan tidak ada yang mengakui kepemilikan hewan ternak tersebut,
dikarenakan tidak mau repot mengurus bangkai ternak. Dan ini sangat berbahaya karna bangkai ternak seharusnya dikubur/dibakar untuk meminimalisir penularan lebih lanjut.”imbuh Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan yang baru dilantik pada mutasi pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Mukomuko beberapa minggu yang lalu

Lebih lanjut ,Fitriani menjelaskan bahwa sosialisasi mengenai penyakit Jembrana ini tidak bosan-bosan disampaikan kepada peternak dan pedagang ternak,kami selalu mengajak dan menghimbau kepada masyarakat untuk tidak meliarkan ternak, tidak membeli ternak dari daerah pandemi, tidak tergiur dg harga ternak yang murah dan kepada pedagang ternak kami juga menghimbau untuk tidak membeli atau menjual ternak dari daerah terjangkit jembrana,kalau ini terus dilakukan maka kita tidak akan pernah lepas dari pandemi ini,dan jika akan melakukan jual beli dan pemindahan ternak antar lokasi sebaiknya pedagang melakukan pemeriksaan kesehatan hewan, pada dokter hewan yang berwenang diwilayah setempat,sehingga dapat meminimalisir penyebaran Jembrana di Kabupaten Mukomuko.” jelasnya.

“Kita juga berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah,untuk kedepan dapat menganggarkan pengadaan obat-obatan dan perlengkapan lapangan lainnya untuk petugas lapangan, sehingga bisa bekerja lebih maksimal,mengingat sangat minimnya sarana prasarana yg ada,tutupnya (GEM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya