oleh

Tantangan Pembelajaran Daring di Era New Normal

Oleh: Weni Fitria

Pandemi Covid-19 telah berdampak besar pada kehidupan manusia. Tak terkecuali bagi dunia pendidikan. Akibat pandemi, kegiatan pembelajaran turut mengalami perubahan. Salah satunya, melalui penerapan pembelajaran daring yang dilaksanakan dari rumah.

Memasuki masa New Normal,   Belajar Dari Rumah (BDR) masih menjadi salah satu keharusan. Menyusul keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19. Surat tersebut merupakan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kemenag, Kemenkes, dan Kemendagri.

Di antara keputusannya adalah pembelajaran tatap muka dilarang bagi daerah kategori kuning, oranye dan merah. Hanya daerah kategori hijau yang diizinkan melaksanakan pembelajaran tatap muka. Berdasarkan hal itu, Belajar Dari Rumah (BDR) merupakan keharusan bagi daerah dengan kategori selain zona hijau. Salah satu bentuknya,  melanjutkan kembali pembelajaran daring.

Jika ditengok ke belakang, pelaksanaan pembelajaran daring selama ini bukanlah tanpa masalah. Berbagai persoalan muncul mengiringi pelaksanaannya. Mulai dari keterbatasan internet, ketiadaan gawai atau komputer bagi sebagian pelajar, hingga keterbatasan orang tua  mendampingi  anak saat pembelajaran daring.

Persoalan lainnya muncul dari kalangan guru. Bukan rahasia lagi, masih ada sebagian guru yang “gagap”  dalam melaksanakan pembelajaran daring. Penyebabnya,  keterbatasan guru di bidang pembelajaran berbasis internet dan teknologi.

Sebagian peserta didik juga memiliki persoalan tersendiri,  yakni kurang berminat mengikuti pembelajaran daring. Bisa jadi disebabkan ketidaksiapan mengikuti pembelajaran dari rumah dan terpisah secara fisik dari teman dan guru. Ditambah keterbatasan orang tua dalam membimbing anak. Termasuk keterbatasan guru dalam merancang pembelajaran daring yang menarik bagi peserta didik.

Harus diakui, semua hal di atas menjadi tantangan pembelajaran daring di era New Normal ini. Untuk menjawabnya, dibutuhkan langkah yang efektif agar pembelajaran daring bisa terlaksana dengan baik.

Pertama, keterbatasan internet. Dalam hal ini perlu peran aktif pemerintah untuk memperluas jaringan internet di berbagai daerah. Jika hal itu belum maksimal, tentunya pembelajaran daring bukanlah satu-satunya pilihan yang harus dipaksakan. Masih tersedia  pilihan lain, seperti pembelajaran luar jaringan (luring). Hal ini juga berlaku untuk peserta didik yang tidak memiliki gawai dan komputer.

Kedua, keterbatasan orang tua membimbing anak dalam pembelajaran daring. Menjawab tantangan ini, diperlukan komukasi yang efektif antara guru dan orang tua. Guru harus mampu meyakinkan orang tua bahwa pembelajaran daring adalah tanggung jawab bersama. Di lain pihak,  orang tua mesti menyadari dirinya adalah pendidik yang utama dalam keluarga.

Ketiga, kurang terampilnya guru dalam menguasai teknik dan metode yang menarik dalam pembelajaran daring. Dalam hal ini, dibutuhkan kemauan guru untuk meningkatkan kemampuannya. Guru mesti menyadari bahwa dirinya berkewajiban menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

Terakhir, menyikapi kurang berminatnya sebagaian peserta didik terhadap pembelajaran daring. Dalam hal ini diperlukan kerja sama antara guru, orang tua dan peserta didik itu sendiri dalam menyiasati hal tersebut. Orang tua harus mampu memotivasi anaknya, sedangkan guru harus siap dengan metode yang menarik minat belajar peserta didiknya.

Intinya, Diperlukan keseriusan berbagai pihak mulai dari pemerintah, guru, orang tua, peserta didik, maupun masyarakat mencari solusi untuk menjawab berbagai tantangan pembelajaran daring tersebut. Tujuannya, agar pendidikan di Era New Normal tetap berjalan dengan baik.

Penulis adalah Guru MAN 2 Pesisir Selatan. Saat ini aktif sebagai Pengurus KPPL Kemenag Pesisir Selatan

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya